Category Archives: Sehat & Waras

Men Sana In Corpore Sano

Saya ini Apalah…

Saya ini apalah,… adalah kalimat inspirasi yang saya ambil dari lagu milik dara cantiq maniz berkumis tipis, teh Iis Dahlia” yang berjudul “cinta apalah apalah”.
Penggalan liriknya sebagai berikut:

Aku bagimu apalah
Kau juga bagiku apalah
Kita ini hanya apalah
Kau dan aku apalah apalah

Okey kawan, bukan lagu ini yang akan kita bahas, namun tentang saya. Tentang kiprah saya sejak lulus kuliah hingga saat ini. Saya termasuk orang yang mengalami tiga alam pekerjaan. Tiga alam yaitu, Sebagai Karyawan Perusahaan (company employee), sebagai akademisi (academic lecturer) dan sebagai Tenaga Ahli Birokrasi (bureaucracy expert).

Menjadi Karyawan Perusahaan

Sejak tahun 2005, saya sudah aktif dan bergabung dengan Astra melalui LPB-YDBA. Dimana Lembaga ini khusus mendampingi UKM binaan mitra. Mulai dari pelatihan teknis dan non teknis serta pendampingan manajemen, keuangan, teknologi serta akses pasar bagi UKM dibawah binaanya. Prestasi dan penghargaan yang pernah saya terima sehingga pada tahun 2014 diminta untuk pindah ke Jakarta dan  bertugas di Devisi ESR PT Astra International Tbk. Saya memiliki keahlian membina UKM, Pemberdayaan Masyarakat serta kemampuan mendevelop konsep strategi dan implementasi program CSR. Pada saat bertugas di PT Astra International Tbk itulah, saya yang memperkuat konsep program CSR terutama terkait dengan program Kampung Berseri Astra. Hasil karya yang sudah diwujudkan yaitu KBA Surabaya, KBA Balikpapan, (KBA Bali dan KBA Bandung) baru tahap sosialisasi program dan penentuan lokasi. Konsep CSR menurut saya sejak tahun 2005 hingga hari ini adalah dari hati dan menginspirasi melalui optimalisasi social capital (modal sosial). Konsep saya dalam program CSR selama ini ya dengan mengimplementasikan theory tersebut. Mudah bagi yang memiliki ketertarikan dengan modal sosial, dan saya salah satu yang memilih theory ini sebagai dasar dari semua aktifitas yang dilakukan. Status saya di PT Astra International Sunter Jakarta harus berhenti dikarenakan ada perbedaan cara pandang soal program CSR serta kondisi lain, sehingga tahun 2015 saya harus hijrah dan melakukan aktifitas di Surabaya. Pernah menjadi Karyawan Perusahaan, menjadikan saya lebih yakin dengan konsep CSR yang selama ini saya lakukan, dari hati dan menginspirasi, meski tetap dengan target serta publikasi.

Seorang Dosen Perguruan Tinggi
Kecintaan berbagi ilmu telah saya lakukan sejak tahun 2000, tepatnya menjadi Dosen di Program Vokasional PASTI TEKNIK INDUSTRI ITS. Saat itu saya belum bergabung dengan perusahaan, saya masih berkantor di ITS DESIGN CENTER menjadi administrasi serta Juru Gambar. Merasa memiliki kemampuan menggambar yang cukup serta aplikasi software komputer seperti AUTOCAD, MECDESK, 3DsMAX serta software Aplikasi Perkantoran, Manajemen Proyek. Berbekal keahlian tersebut saya tertarik untuk berbagi ilmu dengan mengajar di program vokasional Teknik Industri ITS. Pengalaman mengajar saya teruskan hingga saat ini menjadi Dosen di UNUSA dan UNAIR.  Di UNUSA saya mengajar di program S1 Manajemen, mata kuliah yang saya ampu yaitu Etika Bisnis & CSR, Manajemen Ritel, Manajemen Operasional serta Pemasaran International. Sedangkan di UNAIR saya mengajar di mata kuliah KWU. Metode pembelajaran yang saya lakukan dikampus tetap dengan pendekatan social capital. Menurut saya, mahasiswa bukan lagi obyek, tapi mereka juga merupakan subyek yang perlu didengarkan dan diajak bersama untuk memahami mata kuliah yang telah sedang ditempuh. Kedekatan Dosen – Mahasiswa tidak lagi sebatas guru murid, akan tetapi lebih pada hubungan saling berbagi visi, ambisi, harapan serta kerjasama untuk meraih tujuan pembelajaran. Seringkali di beberapa kesempatan, konsep berfikir Dosen harus dirubah, mereka harus lebih aware dan melayani. Bukan merasa lebih dibutuhkan mahasiswa. Alangkah baiknya proses penerimaan Dosen harus diutamakan yang pernah kerja. Dosen harus diterima berdasarkan Lulus Kuliah S1, S2, dan S3 dengan IPK tinggi saya setuju, namun perlu ditambahkan pengalaman kerja, hal ini penting agar Dosen tersebut nantinya akan lebih melayani stakeholder yang berhubungan dengannya serta memiliki networking kuat ke pihak luar. Konsep melayani mahasiswa sebagaimana layanan prima bagi pelanggan, akan bisa dilakukan jika Dosen tersebut pernah bekerja. Bekerja berarti Melayani. Pengalaman saya mengajar di UNUSA dan UNAIR ini saya warnai dengan beberapa strategi. Saya merintis kuliah umum yang diisi oleh Manajemen Perusahaan, seperti PT Cocacola Amatil Indonesia Surabaya, dan PT Astra Toyota Auto2000 Jemursari Surabaya. Kemudian untuk program KWU UNAIR, saya memiliki rencana akan menjadikan RUM atau dikenal dengan Rumah Mahasiswa nantinya akan berparthner dengan teman-teman perusahaan seperti PT Wings Group, PT Telkom, PT Bank Jatim, Toyota Auto2000 Jemursari. Menurut saya Perguruan Tinggi harus menjalin kedekatan hubungan relational capital dengan stakeholder. Mahasiswa memerlukan parthner, mahasiswa perlu share dan mahasiswa perlu networking. Demikian juga perusahaan atau stakeholder sangat memerlukan kerjasama dengan teman-teman Perguruan Tinggi, hal inilah yang menjadikan pemikiran saya untuk mensinergikan teman-teman perusahaan dengan Perguruan Tinggi.

Tenaga Ahli Pemerintah Provinsi Jawa Timur
Tidak pernah memiliki impian atau keinginan menjadi bagian dari Pegawai Pemerintah Daerah. Namun kenyataanya, hingga saat ini saya menjadi Tenaga Ahli CSR Bidang Pembiayaan Bappeda Provinsi Jawa Timur. Bermula dari permintaan Pak Agus Yuda staf Bidang Pembiayaan pada tahun 2013 yang bertandang ke kantor Toyota Astra Auto2000 Waru. Waktu itu saya berada dikantor dan ditelp sama Kepala Cabangnya bernama Jogi Hartomo. Singkat cerita, Pak Agus Yuda (saat ini sespri Gubernur Jawa Timur) ini meminta bagaimana caranya program CSR perusahaan di Jawa Timur ini agar sinergi dengan program pembangunan pemerintah Provinsi Jawa Timur. Setelah diskusi kurang lebih 3 jam. Saya menyampaikan mudah sekali dan jika Pemerintah Daerah mau langkah pertama adalah diundang saja perusahaan-perusahaan besar yang berada di Jawa Timur. Termasuk waktu itu kita yang masih tergabung dalam Astra Group Surabaya. Setelah pertemuan, malam hari Pak Agus Yuda telp ke HP saya pribadi, Mas jhon siapa dan perusahaan apa yang diundang. Saya waktu itu menyarankan mengundang PT Astra International Tbk yang diwakili Astra Group Surabaya (saat itu Koordinator Astra group dijabat oleh Pak Jogi Hartomo), Kemudian PT HM Sampoerna, PT Unilever Tbk dan PT Ispatindo. selain itu saya kenal dengan Manajer Stasiun Radio SmartFM Surabaya yang studionya masih di Hotel D’Season Surabaya dan turut diundang juga. Beberapa hari kemudian,  rencana mengundang dilaksanakan dan teman-teman perusahaan hadir di ruang rapat Bidang Pembiayaan Bappeda. Dipimpin oleh Kepala Bidangnya yaitu Ibu Esther dan Kasubid Ibu Karimah serta staf CSR Bapak Agus Yuda pertemuan dilangsungkan dan disepakati membentuk embrio forum csr. pada tanggal 13 Juni 2013 itulah pertama kali embrio forum CSR Provinsi Jawa Timur dibentuk. Saya menyampaikan bahwa forum ini bisa jalan jika ada sekretariat yang jobdisknya memberikan informasi, mengajak serta mengundang perusahaan-perusahaan untuk bergabung. Waktupun terus berjalan dan forum CSR belum optimal dikarenakan sekretariat belum bisa maksimal dan ada perubahan organisasi yaitu Kepala Bidang Pembiayaan Ibu Esther diganti dengan Pak Ikmal Putra, kasubid pengembangan dari Ibu Karimah diteruskan Ibu Tjitjik Suhartini. Saya yang waktu itu masih di perusahaan tidak bisa membantu banyak, namun sering ditelp oleh Ibu Karimah maupun Ibu Tjitjik bagaimana bisa mengoptimalkan forum CSR agar bisa sinergi dengan program pemerintah. Yang saya bisa lakukan adalah membantu akses keperusahaan serta mencarikan narasumber misalnya ada rapat, itupun melalui telp karena posisi saya yang ditugaskan Astra di Balikpapan, Bandung dan Bali.
Pertengah tahun 2014 saya sudah tidak lagi di Astra dan kemabli di Surabaya. Mengetahui posisi saya yang sudah tidak di Astra, Bidang Pembiayaan melalui Ibu Tjitjik meminta saya untuk membantu menjalankan forum CSR yang dirasa selama ini  belum maksimal. Juli 2014 saya datang ke Bappeda Provinsi dan menyampaikan grand strategi agar forum CSR bisa berjalan dengan baik sesuai amanah Perda dan Pergub yang saat itu sudah ada sebagai payung hukum tentang tanggungjawab sosial perusahaan. Ibu Tjitjik, Pak Harno, Mbak Woro, Pak Haris, Mas Akega menyimak paparan saya tentang strategi pengembangan forum csr periode Juli sd Desember 2014. Beliu semua setuju dan dengan dibantu oleh staf skretariat saudari Feni dan Prio, yang saya lakukan pertama adalah ratifikasi database. Database perusahaan besar yang berada di Jawa Timur, kemudian data TIM TSP, serta data SKPD Kabupaten Kota. Tahun 2014 dari 4 jumlah perusahaan yang gabung di forum CSR menjadi 9 perusahaan. Memasuki tahun 2015, saya diberikan kewenangan oleh Kepala Bidang Pembiayaan untuk merekrut 4 orang staf sekretariat. Dari 47 pelamar yang masuk, diperoleh 4 staf yang memenuhi kriteria dan 2 orang menjadi staf CSR dari disiplin ilmu Statistik dan Informatika. Program 2015 forum CSR lebih pada tahap penguatan forum. Membuat surat ketetapan serta SK kepengurusan. Tahun 2015 forum CSR Jawa Timur terbentuk wadah dan struktur organisasi yang disyahkan oleh SK Gubernur. Sejak tahun 2015 tersebut Forum CSR mulai tampak kesolidan dan perusahaan semakin bertambah yang bergabung hingga 35 perusahaan besar menjadi anggota forum CSR tingkat Provinsi.
Sebagaimana tujuan awal dibentuknya forum ini adalah untuk mensinergikan program CSR teman-teman perusahaan anggota forum dengan program prioritas pemerintah. Maka pada bulan April 2016, untuk pertamakalinya Forum CSR mengikuti Pra Musrenbang dan Musrenbang Provinsi Jawa Timur. Dan untuk pertamakalinya, forum CSR Provinsi menerima sejumlah 1315 Usulan program CSR dari 34 Kab/Kota di Jawa Timur. Sebagai bentuk tindaklanjutnya, dari 1315 usulan tersebut saya filter sendiri bersama tim sekretariat yang akan ditindaklanjuti oleh forum CSR. Setelah difilter ada 104 usulan yang tahun 2016 ini akan ditindaklanjuti oleh teman-teman perusahaan. Skenario ini tidak mudah, memerlukan insting dan kepekaan agar usulan program bisa diterima oleh perusahaan-perusahaan anggota forum. Ternyata menjadi birokrasi tidak mudah. Banyak sekali hal-hal diluar konteks koordinasi dan komunikasi yang terkadang saya harus bersabar menunggu keputusan. saya berfikir kalau Indonesia ini memiliki birokrasi yang hebat niscaya negara ini akan lebih kuat. Saya berdoa’ keberadaan saya yang sekarang ditengah birokrasi ini, semoga tetap bisa memberikan konstribusi. Bahasan kondisi saya selama manjadi Tenaga Ahli di Bappeda ini tidak saya uraikan detail, yang pada intinya diperlukan strategi khusus agar program birokrasi dan company bisa berjalan adalah dengan mengedepankan social capital. Dan ini sekali lagi yang saya pakai sebagia Tenaga Ahli Pemerintah Provinsi untuk menyusun konsep, strategi dan menggerakan forum CSR Provinsi Jawa Timur.

Note :
Saya ceritakan pengalaman saya menjadi Pegawai Perusahaan, Akademisi dan Birokrasi ii adalah riil, nyata bukan fiktif belaka.
Semakin saya mengalami dan mengetahui yang saya rasakan adalah ” saya ini apalah..
Sayapun tidak tahu dengan perjalanan karir saya selanjutnya, hingga saat ini saya menjadi bagian dari birokrasi dan akademisi, sekali lagi saya, anda dan kita ini apalah….

Salam Harmoniz

 


					

Masjid Bukan Tempat Bermain

Sengaja saya tulis demikian karena ini rasa kegaduhan di hati saya. Mengapa…kalau kita perhatikan dengan baik. berapa banyak masjid yang berada di Indonesia ini. Namun hanya sedikit yang berfungsi sebagai Masjid. Saya sangat sependapat bahwa masjid merupakan tempat ibadah yang bersifat universal multifungsi. Namun saya tidak sangat setuju apabila pemahaman ini menjadi salah kaprah.

Coba anda semua perhatikan, berapa banyak jamaah yang dengan sengaja membawa anak-anaknya untuk beribadah di masjid namun tidak bisa mengendalikan. Berapa banyak anak yang ke masjid hanya untuk bermain. Yang paling menyedihkan, hampir semua jamaah tidak ada yang melakukan peringatan kepada anak-anak yang ramai. Mereka seolah terbius dengan dogma bahwa anak kecil sengaja diajak ke masjid untuk mengenal dan biasa kalau anak kecil itu suka bermain. ini yang saya tentang keras, bagaimana mungkin nilai keluhuran masjid untuk beribadah berubah menjadi hiruk pikuk seperti pasar, suara anak yang berteriak, saling ribut sana sini. Ingat saudar-saudara, masjid ini miliknya umat banyak, dan umat yang berinfak ini hanya satu tujuannya memiliki tempat ibadah bukan tempat bermain. Sangat jelas perbedaanya bukan.

Disadari atau tidak, yang jelas Islam akan kalah dari umat selain Islam kalau pemahaman dasar ini saja masih belum dipahami yang tua dan yang muda. Islam akan semakin terpuruk karena generasi muda yang tumbuh keliatan di lingkungan religius namun kosong tanpa isi, penunggu masjid tempat saya mengatakan” nanti besar sedikit anak-anak itu sudah tidak mampu mengangkat Al-quran”. Mengapa” karena yang dia lihat setiap hari, anak-anak tidak memiliki kesunguhan dalam belajar agama dan kurang benar dalam melakukan tata krama beribadah.

Semoga, orang tua dan semua yang membaca tulisan ini menjadi sadar bahwa Masjid bukan untuk bermain, masjid untuk beribadah yang benar menurut AL-quran dan Al-hadits. Astagfirullahalladzim, semoga Allah SWT mengampuni dosa saya dan dosa antum sekalian, karena belum mampu menjaga kewibawaan masjid yang sesungguhnya.

Wassallam wrwb

Jamaah Masjid Nurul Ilmi SPR

Berlaku Adil dalam Bertetangga

Berlaku adil, diambil dari arti dua kata tersebut pastinya sudah banyak yang paham. Pertama kata berlaku. Terdiri dari kata Ber dan Laku. Dalam bahasa Jawa laku artinya langkah. Jika diberi awalan ber menjadi membuat langkah karena awalan ber bisa memiliki arti membuat atau menjadikan (sumber jhonhardi). Jadi berlaku saya artikan sebagai membuat langkah. Sedangkan Adil sendiri sudah jelas memiliki makna seimbang, sama. Seringkali dalam pelajaran diartikan adil itu sesuai dengan haknya. Misalnya kita memiliki anak 2 (dua) orang. Anak pertama kelas III SMP. Sedangkan anak kedua kelas II SD. Pada saat kita memberikan uang saku tentu saja akan berbeda jumlahnya. Anak yang besar kita berikan nilai nominal lebih daripada anak yang kecil. Dan itu bisa dikatakan juga Adil sesuai peruntukannya. Kemudian makna Tetangga. Kita smeua sepakat bahwa orang lain yang hidup berdampingan dengan kita itu disebut sebagai tetangga. Bisa terletak di kanan atau di kiri. Maka ada istilah tetangga kanan atau tetangga kiri. Tetangga kanan berarti tetangga kanan rumah kita, dan begitupun tetangga kiri berarti tetangga di samping rumah kiri kita.

Artikel ini sengaja saya tulis dnegan judul yang sangat sederhana. Yang seharusnya tidak perlu di artikan toh orang begitu membaca pasti sudah tahu artinya. Belaku Adil dalam Bertetangga. Sebenarnya saya bukan menuliskan artinya, namun dalam artikel ini saya sedikit akan uraikan bagaimana berlaku adil dalam bertetangga berikut ini.

Di kota Surabaya ada satu klaster perumahan. Sebut saja perumahan itu bernama SPR. Perumahan yang terletak di Surabaya kawasan Timur ini dihuni kurang lebih 340 an KK. Rata-rata penghuni mayoritas adalah pegawai yang berpendidikan tinggi. Penghasilan diperkirakan 5 juta sd 10 juta per bulan. Itu adalah penghasilan netto atau bersih. Bisa bertambah penghasilan itu karena si empunya terkadang memiliki penghasilan lain dari gaji tetapnya, misal dari proyek, bonus, komisi atau prosentase penjualan jasa karena keahliannya. Fasilitas di perumahan tersebut belum lengkap. Namun air serta listrik sudah tersedia, Meskipun di beberapa lokasi perlu perjuangan untuk mendapatkan aliran air PDAM pada awalnya, tapi tahun 2015 ini semua persil sudah teraliri. Listrik rumahpun sudah ada alias warga telah memperoleh pasokan aliran listrik yang cukup. Alkisah’ kehidupan warga dimulai pada medio 2010. Saya ingat betul bahwa tahun 2010 itulah dimulai dibentuk sebuah organisasi yang dikenal dengan Rukun Tetangga atau RT. Karena wilayah yang cukup luas. Maka di perumahan itu dibentuk menjadi 2 (dua) ke RTan. Yang pertama adalah RT 06 dan yang kedua RT 07. Seiring berjalannya waktu. Ketua RT melakukan tupoksinya yaitu bagaimana menjadi panutan, mengarahkan serta membina persatuan, kerukunan warga dalam hidup bertetangga. Mulai dari arahan untuk kerja bhakti bersama. Menjaga keamanan serta saling berbagi suka dan meringankan dalam duka. Kondisi demikian yang sangat diharapkan oleh pengurus RT waktu itu hingga pengurus yang sekarang. Namun bayangan indah yang diharapkan tidak sama dnegan kenyataan. Justru 180 derajat kata orang kondisinya. Warga cenderung cuek. Mengacuhkan himbauan dari RT. Seharusnya warga mengikuti arahan dari pemimpinnya yaitu ketua RT. Sejenak saya koreksi, apakah ini karena warga yang terlalu apatis atau RT dan jajarannya yang kurang dekat hubungannya dengan warganya. Bisa jadi dua hal itu sebagai penyebabnya. Pertama; warga kurang memahami makna Berlaku adil dalam Bertetangga. Warga seharusnya menyadari bahwa sebagai penghuni semestinya mengucapkan salam, senyum atau bertegur kepada warga lain yang sudah terlebih dahulu tinggal, namun kenyataanya tidak demikian. Warga baru cenderung apatis, jangankan lapor ke RT, sekedar permisi kulo nuwun ke tetangga sebelah saja enggan dilakukan. tingkah polah yang demikian ini menunjukan sifat tidak berlaku adil kepada tetangga. Sebagai warga baru sudah seharusnya permisi kepada yang lama, itu cukup adil dan fair. Kedua; RT serta jajarannya perlu mendalami ilmu hubungan sosial. Istilah kerenya Social Capital. Yang dalam tesis saya tulis Modal Sosial. Ilmu ini penting untuk dipahami oleh pemimpin mulai tingkat RT hingga level Presidenpun di Negeri ini. Mengapa’ karena dengan modal sosial yang baik, segala bentuk kebuntuan politik, komunikasi, budaya dan apapun akan bisa diselesaikan. karena dalam teori modal sosial yang salah satunya membahas bagaiman hubungan manusia satu dengan lainnya yang didasari rasa kebersamaan yang didasari dari hubungan relasional, interaksional serta struktural ini menjadikan ketua RT lebih mendekat ke warganya. RT serta jajaran pengurus akan senantiasa bersilaturahim ke warganya satu persatu. RT dan jajaranya akan mengerti dan memahami apa yang dirasakan warganya. RT serta jajarannya mampu menggali keinginan, kemauan serta harapan bahkan cita-cita masing masing penghuni. RT dan jajaranya akan memiliki hubungan relasional, interaksional serta struktural yang baik dengan warganya. Sehingga modal sosial RT dengan warga menjadi semakin kuat. Wargapun akan menilai bahwa RT bisa memberi contoh berlaku adil dalam bertetangga.

Sebagai penutup tulisan ini. Bahwa kondisi perumahan yang dituliskan dalam artikel diatas masih perlu perbaikan. Masih perlu perjuangan untuk menjadi perumahan yang penghuni dan pemimpinya untuk bisa Berlaku Adil dalam Bertetangga.

Salam harmoniz

 

 

 

 

“BANGSA BESAR GULUNG TIKAR”

Setiap Orang ada Masanya dan Setiap Masa ada Orangnya. Ini adalah kalimat yang sering diungkapkan oleh banyak orang. Ungkapan itu mengandung arti bahwa manusia tidak selamanya sama kondisinya. Hari ini sebagai rakyat, besuk or lusa akan jadi pejabat. Begitupun selanjutnya. Dan hal ini tidak perlu lagi diperdebatkan karena memang takdirnya demikian.

Sebagian dari anda, pernah mendengar negeri Andalusia. Sebuah negeri yang disegani dan ditakuti oleh musuh-musuhnya. Takut karena kekuatan serta ketangguhan bangsanya. Disegani karena penduduk muda senantiasa menjaga nilai-nilai kejujuran, kebenaran yang kental dengan nuansa relegiusitas.

Namun, menjadi pelajaran yang sangat amat berguna bagi kita sekarang. Khususnya bagi bangsa Indonesia yang telah memasuki usia 70 Tahun Merdeka. Neger Andalusia yang dahulunya termasyur itu pada akhirnya hancur lebur habis dijarah oleh bangsa lain. Hal itu terjadi bukan karena bangsa lain yang kuat akan tetapi moral muda bangsa Andalusia yang makin hari makin merosot. Tidak lagi menganggap relegiusitas menjadi utama, justru jiwa hedonisme yang pertama.

Akankah negeri Indonesia yang subur, kaya raya yang katanya gemah ripah loh jinawi akan hancur. Akankah negeri yang dulu dijuluki sebagai Macan Asia akan lumpuh. Tentu saja bukan sekarang jawabanya, namun menjadi PR bagi pemimpin negeri ini. Untuk selalu tanggaping sasmita, kalau tidak maka Negera Besar akan Gulung Tikar…..

MEMBANGUN KARAKTER BAGIAN DARI SYUKUR NIK’MAT

  1. MEMBANGUN KARAKTER BAGIAN DARI SYUKUR NIK’MAT

 

Dari semua yang diungkapkan diatas pada dasarnya adalah usaha kita bagaimana membangun karakter diri agar memiliki etos kerja yang baik dan dapat menjadi pondasi bagi kita untuk mengembangkan diri sebagai wujud syukur kita kepada Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa, Allah Azza wa Jalla.

 

Dalam bahasa lain banyak orang mengatakan tidak akan banyak artinya kemampuan        ( knowledge ) yang tinggi disertai dengan keterampilan ( skill ) yang juga tinggi apabila tidak diikuti dengan prilaku ( attitude ) yang baik.

 

Apabila kepada anda diminta memilih satu diantara dua pilihan, disatu sisi adalah orang yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang bagus tetapi kurang memiliki prilaku yang baik, disisi lain adalah orang yang prilakunya baik tetapi kurang memiliki pengetahuan dan bahkan juga ketrampilan.

 

Maka, mana kala anda memilih pilihan pertama, Anda ada pada posisi menunggu saat-saat “bom meledak”.  Karena pada saat-saat Anda begitu sangat membutuhkan dia, bisa jadi karakter tidak baiknya akan muncul dan mencari celah untuk dapat menguasai dirinya. Pada saat itulah apapun yang dilakukan akan merugikan dirinya dan berdampak pada lingkungan yang ada disekitarnya.

 

Tetapi dikala Anda memilih, pilihan kedua orang yang kurang memiliki kemampuan maupun ketrampilan namun mempunyai semangat untuk terus belajar dan belajar memperbaiki dirinya dan dia memiliki prilaku yang baik. Maka, itu adalah lebih baik. Prilaku yang baik, akan berdampak baik, walau pada situasi bagaimanapun tetap dia akan dapat menyikapi dengan baik. Dan itulah akhlak, akhlak yang dapat membawa seseorang menjadi mulya.

 

 

  1. MARI BELAJAR JUJUR PADA DIRI SENDIRI

 

Akhlak mulia tidak secara otomatis menempel pada diri seseorang. Ada proses dan butuh waktu, karena itulah diperlukan perjuangan maksimal untuk mendapatkannya. Apa lagi bagi orang-orang yang sudah dewasa, ini menjadi sebuah tantangan. Dan yang paling penting lagi adalah ”adakah keinginan pada diri untuk berubah. ?”

 

Maka kejujuran menjadi kunci, bagi siapapun kita yang akan melangkah setapak demi setapak menuju anak tangga perbaikan diri. Dan kejujuran yang paling utama adalah, saat kita menghadapi diri kita sendiri. Jujur pada diri sendiri adalah prilaku prima yang diinginkan oleh setiap orang. Pertanyaannya, bagaimana caranya agar kita dapat memiliki kejujuran itu, dan bagaimana cara kita  membangun akhlak yang mulia.

 

Karena itulah seorang hamba Tuhan diutus dimuka bumi ini ”untuk menjadi tauladan yang baik”. Muhammad Rosulullah SAW, diutus Allah kemuka bumi ini, untuk dapat menyempurnakan akhlak hamba-hamba-NYA yang dengan sadar ingin ada perbaikan pada dirinya, menjadikan dirinya orang yang penuh manfaat.

Allah SWT berfirman dalam surat Al- Ahzab (33) ayat 21, “Sungguh telah ada pada diri Rasullulah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

 

Akhlak tidak bisa begitu saja dimiliki setiap orang. Akhlak adalah sesuatu yang sudah menempel pada seseorang dan menjadi bagian dari dirinya. Karena itu perlu proses dan waktu untuk dapat merubahnya. Dalam buku membentuk karakter cara islam, Annis Matta menyebutkan ”Akhlak sebagai ujung dari iman dan amal saleh. Akhlak adalah nilai dan pemikiran yang mengakar dalam jiwa, lalu tampak dalam bentuk tindakan yang tetap, natural dan reflek”.

 

Rutinitas yang diwarnai perasaan sukarela dengan dukungan pengetahuan, itulah yang akhirnya membuahkan akhlak. Karena itu, akhlak terinternalisasi dalam diri seseorang melalui tahap pembiasaan.

 

Dalam dunia perbankkan ini menjadi tuntutan yang paling utama, dimulai saat menentukan seseorang untuk menjadi karyawan, melalui proses rekrut yang kemudian dilanjutkan dengan proses-proses berikutnya, adalah kegiatan yang mutlak dilakukan. Setelah menjadi karyawan, akhlak itu, yang diantaranya adalah kejujuran tetap terjaga dan terpelihara dengan baik bahkan dapat membawa dirinya menjadi lebih bijak didalam menyikapi hidupnya.

 

Begitu juga pada saat memilih mitra atau nasabah sebagai seseorang yang akan memberikan pelayanan yang terbaik, maka tolak ukur pertama adalah akhlak, adalah kejujuran. Bila pada saat itu, nasabah yang diambil jatuh pada pilihan yang kurang tepat, maka tidak heran akan menjadi ”bom waktu” yang setiap saat dapat meledak dan akan merugikan kita semua.

 

Karena itulah pengembangan diri lewat program-program pelatihan yang diberikan secara berjenjang dan berkesinambungan baik bagi karyawan maupun nasabah adalah kebutuhan dan proses yang seharusnya dilakukan. Sehingga pada akhirnya kebersamaan dalam menyikapi setiap persoalan untuk mencapai tujuan yang disepakati, mempunyai visi yang sama.  Kejujuran pada diri menjadi kunci  keberhasilan bagi  semua pihak dalam menghadapi setiap permasalahan.

 

 

  1. YANG SERING TERLUPAKAN

 

Manusia adalah tempatnya salah dan sering lupa, tidak ada yang sempurna. Karena itu menjadi hal yang sangat penting pada saat kita menjaga diri untuk tidak larut dalam kekeliruan atau kesalahan yang berkepanjangan. Kalau awalnya baik saja, bisa menjadi kurang baik atau bahkan tidak baik, apa lagi bila saat penerimaan karyawan atau pada saat akad kredit diawali dengan yang kurang baik. Apa jadinya ?

 

Pantaslah kalau di firmankan ”bahwa sesungguhnya manusia adalah orang-orang yang merugi”. Bagaimana kita tidak dikatakan merugi, kalau setiap tindakan kita disadari atau tidak terkadang cenderung untuk melakukan atau mengatakan yang kurang baik, mungkin ini disebabkan karena sebagian besar tubuh kita adalah zat cair, yang selalu memilih daerah lebih rendah pada saat zat cair tersebut dialirkan. Dan zat cair begitu

mudahnya berubah bentuk, ia akan segera menyesuaikan dengan tempat yang ada saat itu, sama halnya kita yang mudah terpengaruh atau dipengaruhi.

 

Karena itu untuk tetap istiqamah, tetap berjalan sesuai dengan relnya, maka diperlukan pemeliharaan yang terus menerus, dan tidak akan pernah berhenti. Rumah tidak akan pernah bersih kalau hanya disapu 1 kali, rumah akan selalu bersih apa bila setiap saat kita menjaga dan membersihkannya, tidak harus menunggu kotor, apa lagi kotor yang berkepanjangan. Ini yang sering terlupakan.

 

Dalam sebuah hadits disampaikan ; “Barang siapa melapangkan kesusahan dari kesusahan dunia seorang mukmin, Allah akan melapangkan kesusahannya di hari kiamat.

 

Barang siapa melepaskan kesukaran seorang mukmin, Allah akan melepaskan kesukarannya di dunia dan akhirat. Dan barang siapa menutupi aib seseorang muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Dan Allah selalu menolong hamba Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya. Barang siapa berjalan di jalan menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HRMuslim).

 

Jaga dan peliharalah diri lewat belajar yang tidak pernah berhenti, isi otak kita dengan pengetahuan dan ketrampilan dan isi hati kita dengan kecerdasan emosional dan spiritual serta berempatilah kepada sesama sebagai usaha kita untuk mendapatkan ridho-NYA.

 

Nasabah yang jujur dan bertanggung jawab, pasti akan memenuhi setiap hak dan kewajibannya, ini juga sebab ketrampilan petugas perbank-an didalam memilih dan memilah. Tidak hanya sampai disitu tetapi juga menjaga dan memeliharanya. Keduanya menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah bagian dari syukur nikmat yang harus dilakukannya. Inilah orang-orang yang berakhlak mulya yang saling menjaga dan memelihara. Tidak cukup hanya dengan beriman kepada Allah, tidak juga cukup dengan perbuatan yang baik, tetapi juga harus disertai dengan saling mengingatkan baik didalam hal-hal yang positif maupun dalam menyikapi kehidupan yang dituntut dengan kesabaran. Ini semua bagian dari syukur nikmat kita kepada Tuhan Yang maha Pencipta, Allah Azza wa Jalla.

 

Kisah Kawan Dekat dengan Kawan Lama

Berbagi cerita dari seorang kawan dekat kepada kawan lama.

Kawan dekat menyampaikan bahwa tidak lama lagi dirinya akan pergi karena ingin berbagi ditempat lain. Kawan lama sedikit terkejut mendengar kata-kata dari kawan dekat tersebut dan kawan lama bertanya mengapa kamu mau keluar dari pekerjaan ini.  Dan bukankah kamu selama ini sangat menikmati dan rasanya sangat luarbiasa dedikasimu sehingga hasil  yang kau tunjukan membuat kantor pusat sangat percaya padamu. “Dan banyak sekali yang ditanyakan oleh kawan lama tersebut kepada kawan dekat, seolah tidak percaya bahwa keputusan yang akan diambil oleh kawan dekat adalah hanya sendau gurau saja. Memang kawan dekat ini  memiliki pribadi yang cerdas, menyenangkan, ringan tangan, idealisme yang superkeras dan prinsip dalam bekerja, kawan dekat adalah pribadi yang memiliki jiwa pengabdian yang luarbiasa. Hal itu ditunjukan dibeberapa aktifitas dimulai dari tempat tinggalnya, sampai dengan komunitas-komunitas bisnis serta ke semua instansi. Boleh dikata kawan dekat seperti seorang pendakwah. Datang menginspirasi, memberi solusi dan mendampingi. Kawan lama yang sangat mengenal pribadinya akan merasa kehilangan sosok kawan dekatnya tersebut. Namun apa yang bisa dilakukan oleh kawan lama, hanya bisa merenung dan berfikir semoga kawan dekatnya masih mau mengurungkan niat untuk meninggalkan diri kawan lama tersebut. Sejenak kawan lama kepikiran untuk bertanya rahasia apa yang dimiliki kawan dekat itu sehingga dia selalu bisa berhasil dilingkungan manapun dan dalam kondisi apapun. Kawan dekat yang ditanya oleh kawan lama bercerita ada 3 hal yang sejatinya dilakoni oleh kawan dekat itu selama ini yang orang lain tidak ketahui:

1. Belajar, Kawan  dekat ini selalu belajar dimanapun dan kapanpun. Utamanya pada saat malam hari kawan dekat membaca journal-journal ilmiah. Dibaca dipahami dan di ringkas makna yang ada didalamnya. Di imajinasikan dan diejawantahkan seandainya yang didalam journal itu adalah dirinya atau perusahaan miliknya sendiri apa yang harus dia lakukan. Dengan seperti itu, maka kawan dekat merasa menyatu dengan bahan bacaanya.

2. Mengajarkan, kawan dekat tidak segan-segan selalu menyampaikan semua yang didapat dari hasil membaca journal-journal, buku, artikel atau semacamnya kepada siapa saja. Baik dirumah, dikantor dan dimana dia berada. Kawan dekat sangat senang bergaul. Jiwa yang peka terhadap situasi mendorong dirinya selalu mengajarkan yang diperoleh kesiapapun yang ditemui. Bahkan kawan dekat selalu menunjukan berdasarkan bukti empiris dan praktis.

3. Modal Sosial, bukan lagi kata tidak untuk melakukan silaturahim. senjata ampuh satu ini selalu dipakai oleh kawan dekat. Mengunjungi sanak saudara, kolega kantor, bisnis atau teman adalah kebiasaan kawan dekat lakukan sejak dibangku kuliah. Kalaupun tidak bisa bertemu tatap muka, kawan dekat mengupayakan meski hanya skedar mengirimkan pesan. Dengan jalinan silaturahim itulah sesungguhnya kawan dekat melanggengkan apa yang disebut sebagai teori modal sosial.

Itulah sebenarnya yang dilakukan oleh kawan dekat selama ini, maka tidak heran kepercayaan diri kawan dekat tidak pernah pudar dan bahkan kian hari semakin tumbuh berkembang.

Kawan,…itulah sepenggal cerita kawan dekat dengan kawan lama…semoga dalam kehidupan kita selalu menjaga proses belajar yang tak henti dan selalu memiliki keinginan untuk mengajarkan sehingga jalinan hubungan baik dengan sesama akan menjadi nyata…aamiin

sukses lahir batin

Bangsa Kuat ya Indonesia

Sobat,

sobat \,

sobat >>

Sobat./;;

salam pagi saya bagi sobat semua, love u full kata alm mbah surip.

dalam tulisan kali ini saya hanya menyampaikan bahwa saya anda dan kita semua sebagai bangsa Indonesia yang kuat. Kuat menahan malu, kuat bayar pajak, kuat bayar kebutuhan hidup air, listrik, bbm, elpiji dan kuat segalanya.

Sekalipun hampir semua aturan yang memberatkan dan membelenggu terus dijalankan.

sampai kapan ini akan berlangsung, sampai para pahlawan yang dulu berjuang untuk Indonesia Merdeka akan bangkit lagi dari Kubur?

Atau sampai, Indonesia tidak lagi berstatus Indonesia???

Saya pun tidak tahu dan hanya berharap, ada perubahan untuk Indonesia yang kuat di 2014.

” aamiin”

salam hangat sobat

jhon hardi

 

 

 

Statusiasi Ekonomi Yang Labil

Salju tengah turun dengan deras ketika seorang pria paruh baya tampak berdiri di sudut sebuah perpustakaan di kotanya. Pria paruh baya itu berambut ikal, dengan janggut dan brewok yang memenuhi sekujur dagunya.

Diantara rak-rak buku dgn koleksi ribuan buku, ia tampak menatap tajam cover bukunya yang baru saja ia rilis. Sambil mengelus-elus brewoknya yang tebal, ia menatap cover buku itu dengan bahagia.

Ia layak bangga, sebab karyanya itu kelak dikenang sejarah sebagai salah satu “konspirasi kemakmuran yang paling gemilang dalam melakukan kudeta terhadap dominasi kapitalisme global”. Ia berharap, karyanya itu mampu menghindarkan dunia dari statusiasi ekonomi yang labil.

Cover buku itu bersahaja. Hanya tertulis judulnya : Das Kapital. Dibawahnya tertulis : disusun oleh Karl Marx. Berlin tahun 1869.

Karl Marx, pria brewokan itu mungkin memang layak bersuka cita dengan bukunya itu. Sebab sejarah kelak mencatat : buku itulah yang paling gigih melawan eksploitasi kelas buruh oleh kelas pengusaha kapitalistik.

Maka simaklah kalimat-kalimat berikut yang tertuang dalam karyanya itu. Kaum pekerja selamanya hanya akan jadi sekrup dalam mesin kapitalisme yang terus menggilas, demikian ia pernah menulis.

Kelas pekerja/buruh akan terus jadi alat produksi (tidak beda dengan mesin) yang akan dieksploitasi oleh kaum pebisnis borjouis. Kaum pekerja hanya akan bermakna dalam nomer (nomer induk pegawai acap lebih penting dari nama orang).

Dalam deretan angka nomer induk pegawai itu, kaum buruh manusia lalu terpelanting dalam proses “dehumanisasi” dan “depersonalisasi”. Kaum buruh/pekerja itu diam-diam berubah menjadi “benda mati”, dan disedot “nilai produktivitasnya” demi kemakmuran para juragan bisnis.

Dengan kata lain, setiap tetes keringat kaum buruh/karyawan akan diperas demi akumulasi profit kaum bisnis kapitalis.

Dalam kelas-kelas seminar tentang entrepreneurship, sering diajarkan taktik leverage/daya ungkit. Leverage artinya : kita menggunakan tenaga ratusan orang lain untk menciptakan profit bagi kita sebagai pemilik bisnis.

Karl Marx menulis cara seperti itu tak beda dengan perbudakan. Modern slavery. Dan kaum pekerja yg akan terus jadi budak-budaknya.

Kini, ketika kaum pebisnis kian kapitalistik (ingat praktek outsourcing yang kian marak), kalimat-kalimat Marx itu mungkin tetap bergema.

Lewat buku Das Kapital itu, ia lalu menyodorkan alternatif : socialist economy. Ia menulis sebuah bisnis akan lebih mulia jika 100% sahamnya dimiliki oleh pekerja secara bersama-sama.

Itulah saat ketika tidak ada lagi kelas juragan dan kelas buruh. Sebab semua pekerja bersama-sama memiliki bisnis.

Koperasi mungkin model bisnis yang paling mirip dengan gagasan sosialisme Marx. Dan keadilan bisnis mungkin bisa dipeluk dengan jalan itu.

Sebab, betapa indahnya kalau 100% saham Telkomsel dimiliki oleh koperasi karyawannya.

Betapa elegannya, jika 100% saham Astra International dimiliki oleh koperasi karyawannya.

Dan sungguh, keadilan bisnis akan berkibar-kibar jika 100% saham Indofood, Aqua, dan Bank BCA dimiliki oleh koperasi karyawan mereka.

Karl Marx sudah memimpikan model bisnis seperti itu sejak 140 thn silam. Diantara butiran salju di kota Berlin.

Sungguh, gagasan itulah sejatinya yang layak disebut sebagai “konspirasi kemakmuran”. Sejenis konspirasi yang bisa mengkudeta labilnya ekonomi dunia yang kapitalistik.

Sayang, model bisnis impian seperti itu acap jatuh menjadi utopia (ilusi). Gagal di-ejawantah-kan menjadi realitas. Namun model bisnis seperti itu mungkin layak terus digaungkan. Sebab keadilan bisnis yang hakiki hanya bisa terwujud via jalan tersebut.

Inilah saat munculnya “class-less society” yang pernah diimpikan oleh Karl Max. Saat tiada lagi pertentangan kelas juragan vs kelas buruh. Saat tak ada lagi pembedaan antara kaum entrepreneur yang sok heroik dengan kaum pekerja yang terus ditindas.

Salju terus turun di kota Berlin. Ditemani secangkir kopi hangat, Marx terus merenungi isi bukunya, Das Kapital. Gagasan Marx tentang keadilan bisnis mungkin masih akan terus jadi fatamorgana, terjepit dalam hegemoni kapitalisme global.

Pagi itu, dingin yg membeku kian menyergap kota Berlin. Marx tampak menikmati tegukan terakhir kopi hangatnya.

tq mas Ayodya

salam jhon hardi

satuindonesia