Category Archives: Sosial Budaya

Azkaa….hoii’ awas’ tendang Zid…

IMG_20170224_172257 IMG_20170224_172306

Azka’..waduh; Zid tendang …
Saling mengejar dan berebut untuk menguasai bola. Teriakan, ketawa kadang diselingi dengan keluhan karena bola yang ditendang tak sesuai arah yang diharapkan. Hanya berdua memang, tapi kedengaran sangat ramai. Kegaduhan mereka tak sedikitpun membuar orang yang ada disekitarnya merasa terganggu. Kepolosan dan keceriaan yang  terpancar dari wajah anak tak berdosa membuat siapa saja yang melihat ikut gembira. Akankah semua anak bangsa bisa merasakan seperti mereka berdua itu ?
Coba kawan lihat faktanya, di Surabaya misalnya, Kota besar dengan masyarakat urban dan dinamika kehidupannya acapkali memaksa anak tidak memiliki kesempatan untuk bersama teman dalam waktu lama. Hal ini karena sempitnya lahan bermain dan kehidupan orangtua, rumah tempat tinggal mereka yang kurang mengenal satu dengan lainnya. Sekedar mengenalkan anaknya untuk bertegur sapa adalah budaya yang kian surut. Dulu perkampungan dicirikan dengan semua orang saling kenal. sedangkan warga perumahan dikenal dengan egosentris, lebih utamakan individu. namun faktanya sekarang hampir sama tidak ada bedanya antara warga kampung dengan perumahan. Budaya individu, lebih mementingkan pemenuhan diri sendiri lebih mendominsasi.
Bertumbuh Raga & Jiwa
Gambaran keceriaan dua anak calon pemimpin Indonesia yang sedang bermain bola diatas adalah bukti nyata, bahwa anak perlu tempat, wadah untuk menggerakan raga. Ayunan lambaian kaki tangan, semburan nafas dan tetesan keringat, saling berteriak menyebut nama satu dengan lainya. Mereka adalah aset bangsa, mereka perlu tempat, perlu wadah. Sedangkan pertanyaanya, Apakah kita sudah berikan haknya, hanya sekedar tempat bermain saja. Saya sampaikan pada tulisan ini BELUM. Pemerintah belum hadir sepenuhnya untuk anak calon pemimpin Bangsa. Bukan menyalahkan pemerintah tapi kebijakan pemimpin yang saat ini ada masih mementingkan kepentingan kapitalis, pemilik modal. Buktinya apa?. Coba kawan dipersilhkan jalan-jalan ke pantai atau laut di Surabaya. Hanya sekedar mengajak anak untuk melihat Laut yang katanya milik negara tidak mudah aksesnya. Kita akan dihadapkan pada kenyataan bahwa Laut dan pantai sepanjang pesisir timur Surabaya tertutup oleh perumahan mewah. Kalaupun belum terutup bangunan, untuk masuk kewilayah yang dulunya bisa digunakan oleh petani tambak dan nelayan keluar masuk mencari ikan dari kampung menuju pantai harus melewati tanah yang sudah dikuasi segelintir manusia. Ini semua apa, ini semua ada pembiaran dari pemimpin pemerintahan yang memiliki aturan kalah sama sekompok manusia yang memiliki modal. Harusnya tidak boleh seperti itu. Bagaimana mungkin warga bisa menikmati kekayaan alam, jika hanya sekedar melihat pantai saja harus menembus birokrasi yang berdiri kokoh dan mengatasnamakan regency denga kota mandiri. ini benar benar kegilaan yang terus dibiarkan. Bagaimana dua anak manusia itu akan bisa melanjutkan permainan kehidupan jika hak-haknya sudah dirampas saat ini.
Dua anak itu, mungkin saja 20 tahun lagi sudah tumbuh dewasa menjadi orang yang siap mendobrak ketidak adilan dan itu yang akan kita harapkan. Kepemilikan aset yang memperbolehkan pribadi menguasai yang lain, sesungguhnya kebijakan pemimpin saat ini yang sudah mencederai cita-cita para pahlawan. Setuju atau tidak dengan tulisan ini, kawan semua monggo bisa dirasakan, terutama yang tinggal di Surabaya.
Semoga pemimpin negeri ini benar-benar memngerti bahwa anak bangsa perlu tempat, bahwa anak bangsa perlu wadah untuk bertumbuh dan berkembang.

Salam Harmoniz

JhD

KEKUATAN SOSIAL MASYARAKAT

Masyarakat khususnya Warga seringkali dihadapkan pada masalah sosial yang timbulnya dari lingkungan luar atau yang langsung bersinggungan dengan mereka. Sebagai contoh pembangunan perumahan oleh pengembang kurang memperhatikan dampak yang ditimbulkan sebagai aktifitas yang dilakukan.
Warga hanya mengetahui setelah terdampak. Setelah lingkungannya menjadi banjir. Setelah ada yang berubah misalnya pintu menjadi susah ditutup atau dinding bangunan ada yang retak dan sebagainya. Kemana harus mengadu, sebagain besar warga hanya menggurutu, diam dalam ramai. Kalaupun ada warga yang aktif paling jauh berguncing dengan tetangga kanan kiri. Kalau RTnya aktif, warga tersebut mendapat curhat baru hingga ada solusi titik temu terkait masalah yang dihadapi.
Selanjutnya apakah hanya pasrah diam tanpa ada usaha nyata, Jawabnya tentu tidak. Warga masyarakat sesungguhnya memiliki keuatan sosial yang sangat besar. Kekuatan riil sebagai cerminan dari keeratan modal sosial (Social Capital Power). Kekuatan dahsyat yang tersembunyi dan jarang dioptimalkan untuk digunakan. Oleh karena itu kesadaran hati fikiran untuk membangkitkan kekutan sosial ini yang harus diwujudkan. Pertanyaan lanjutnya adalah siapa aktor yang bisa membangkitkan kekuatan sosial ini. Tidak lain dan tidak bukan adalah mereka yang memiliki power. Mereka yang memiliki nyali untuk berbuat, nyali untuk melakukan. Tidak harus yang berbadan besar, tinggi atau yang paling ditakuti karena terkenal dengan raja tega. Tapi mereka yang berani bersikap sebagai sosok yang memulai pergerakan. Pergerakan dalam menggerakan dan menyatukan kekuatan sosial untuk meraih tujuan.
Pada Minggu 12 Februari 2017 pukul 07.30 sd 09.00 WIB, dilangsungkan rembug bersama warga perumahan. Ini adalah contoh aktifitas dalam menggalang kekuatan sosial. Meski dalam tahap awal harus berbeda persepsi, pandangan dan ide serta gagasan, namun dalam balutan senasib sepenanggungan maka terjadilan temu bersama hingga tercapai satu kesepakatan untuk memperoleh keadilan.
“Kami tidak menghalangi pengembang dalam melakukan pembangunan, yang kami butuhkan ajaklah kami dialog bersama, sampaikan apa yang akan anda lakukan hingga kami bisa memberikan informasi bagi anak istri yang ikut merasakan” contoh suara warga yang menginginkan keadilan.
Dengan kebersamaan akan menjadi kekuatan. Kata kekuatan adalah masyarakat. Perasaan sama halnya kondisi sosial. Oleh karena itu, kekuatan masyarakat yang paling besar adalah social capital power optimation. Kekuatan sosial masyarakat dimanapun dan sampai kapanpun yang akan berperan.

 

Perkuat Modal Sosial Rukun Tetangga

IMG-20170116-WA009 IMG_20170113_201034  IMG_20170118_213914
Melakukan silaturahim kepada warga merupakan satu agenda yang harus dan wajib dilakukan mulai Kepala Suku, Ketua RT, Lurah hingga level Kepala Pemerintahan. Berbagi visi, misi, harapan dan cita-cita bersama sebagai wujud dari perkuatan modal sosial terutama relational capital. (dok.SPR.12 sd 18 Januari 2017, Jhon Hardi bersama warga setiap blok di perumahan).

 

Social Responsibllity Dasar Rukun Tetangga

img-20170109-wa003 img-20170109-wa011 img-20170110-wa000

 

Da’wah CSR melalui pengabdian menjadi pelayan masyarakat dengan mengembangkan kepekaan lingkungan sosial. Sebuah jabatan yang fair demokratis dan siapapun bisa mendapatkannya. Demikianpun saat pelantikan, baik yang bergelar selangit hingga tukang kuli bangunan yang tidak bergelarpun duduk bersama. Membaur jadi satu, tanpa pangkat golongan. Cukup dengan gelar Pak RT, Pak RW sebagai pengabdi masyarakat. Pada tanggal 9 Januari 2016 pukul 19.00 wib dilakukan Pelantikan kepada seluruh ketua RT, Ketua RW dan Ketua LPKM se wilayah Kecamatan Sukolilo.

Pada artikel sebelumnya saya pernah tuliskan, bahwasanya menjadi Ketua RT harus bisa mengelaborasi tiga modal yaitu Modal Social, Financial dan Capital. Organisasi RT menjadi ujung tombak bagi pemerintahan. RT yang langsung bersentuhan dengan masyarakat secara individu bukan kelompok. Oleh karena itu Ketua RT harus mengelaborasi biaya, pemikiran dan tanaga atau bisa dikenal dengan financial capital,  intelectual capital dan social capital.

…..lanjut

Saya ini Apalah…

Saya ini apalah,… adalah kalimat inspirasi yang saya ambil dari lagu milik dara cantiq maniz berkumis tipis, teh Iis Dahlia” yang berjudul “cinta apalah apalah”.
Penggalan liriknya sebagai berikut:

Aku bagimu apalah
Kau juga bagiku apalah
Kita ini hanya apalah
Kau dan aku apalah apalah

Okey kawan, bukan lagu ini yang akan kita bahas, namun tentang saya. Tentang kiprah saya sejak lulus kuliah hingga saat ini. Saya termasuk orang yang mengalami tiga alam pekerjaan. Tiga alam yaitu, Sebagai Karyawan Perusahaan (company employee), sebagai akademisi (academic lecturer) dan sebagai Tenaga Ahli Birokrasi (bureaucracy expert).

Menjadi Karyawan Perusahaan

Sejak tahun 2005, saya sudah aktif dan bergabung dengan Astra melalui LPB-YDBA. Dimana Lembaga ini khusus mendampingi UKM binaan mitra. Mulai dari pelatihan teknis dan non teknis serta pendampingan manajemen, keuangan, teknologi serta akses pasar bagi UKM dibawah binaanya. Prestasi dan penghargaan yang pernah saya terima sehingga pada tahun 2014 diminta untuk pindah ke Jakarta dan  bertugas di Devisi ESR PT Astra International Tbk. Saya memiliki keahlian membina UKM, Pemberdayaan Masyarakat serta kemampuan mendevelop konsep strategi dan implementasi program CSR. Pada saat bertugas di PT Astra International Tbk itulah, saya yang memperkuat konsep program CSR terutama terkait dengan program Kampung Berseri Astra. Hasil karya yang sudah diwujudkan yaitu KBA Surabaya, KBA Balikpapan, (KBA Bali dan KBA Bandung) baru tahap sosialisasi program dan penentuan lokasi. Konsep CSR menurut saya sejak tahun 2005 hingga hari ini adalah dari hati dan menginspirasi melalui optimalisasi social capital (modal sosial). Konsep saya dalam program CSR selama ini ya dengan mengimplementasikan theory tersebut. Mudah bagi yang memiliki ketertarikan dengan modal sosial, dan saya salah satu yang memilih theory ini sebagai dasar dari semua aktifitas yang dilakukan. Status saya di PT Astra International Sunter Jakarta harus berhenti dikarenakan ada perbedaan cara pandang soal program CSR serta kondisi lain, sehingga tahun 2015 saya harus hijrah dan melakukan aktifitas di Surabaya. Pernah menjadi Karyawan Perusahaan, menjadikan saya lebih yakin dengan konsep CSR yang selama ini saya lakukan, dari hati dan menginspirasi, meski tetap dengan target serta publikasi.

Seorang Dosen Perguruan Tinggi
Kecintaan berbagi ilmu telah saya lakukan sejak tahun 2000, tepatnya menjadi Dosen di Program Vokasional PASTI TEKNIK INDUSTRI ITS. Saat itu saya belum bergabung dengan perusahaan, saya masih berkantor di ITS DESIGN CENTER menjadi administrasi serta Juru Gambar. Merasa memiliki kemampuan menggambar yang cukup serta aplikasi software komputer seperti AUTOCAD, MECDESK, 3DsMAX serta software Aplikasi Perkantoran, Manajemen Proyek. Berbekal keahlian tersebut saya tertarik untuk berbagi ilmu dengan mengajar di program vokasional Teknik Industri ITS. Pengalaman mengajar saya teruskan hingga saat ini menjadi Dosen di UNUSA dan UNAIR.  Di UNUSA saya mengajar di program S1 Manajemen, mata kuliah yang saya ampu yaitu Etika Bisnis & CSR, Manajemen Ritel, Manajemen Operasional serta Pemasaran International. Sedangkan di UNAIR saya mengajar di mata kuliah KWU. Metode pembelajaran yang saya lakukan dikampus tetap dengan pendekatan social capital. Menurut saya, mahasiswa bukan lagi obyek, tapi mereka juga merupakan subyek yang perlu didengarkan dan diajak bersama untuk memahami mata kuliah yang telah sedang ditempuh. Kedekatan Dosen – Mahasiswa tidak lagi sebatas guru murid, akan tetapi lebih pada hubungan saling berbagi visi, ambisi, harapan serta kerjasama untuk meraih tujuan pembelajaran. Seringkali di beberapa kesempatan, konsep berfikir Dosen harus dirubah, mereka harus lebih aware dan melayani. Bukan merasa lebih dibutuhkan mahasiswa. Alangkah baiknya proses penerimaan Dosen harus diutamakan yang pernah kerja. Dosen harus diterima berdasarkan Lulus Kuliah S1, S2, dan S3 dengan IPK tinggi saya setuju, namun perlu ditambahkan pengalaman kerja, hal ini penting agar Dosen tersebut nantinya akan lebih melayani stakeholder yang berhubungan dengannya serta memiliki networking kuat ke pihak luar. Konsep melayani mahasiswa sebagaimana layanan prima bagi pelanggan, akan bisa dilakukan jika Dosen tersebut pernah bekerja. Bekerja berarti Melayani. Pengalaman saya mengajar di UNUSA dan UNAIR ini saya warnai dengan beberapa strategi. Saya merintis kuliah umum yang diisi oleh Manajemen Perusahaan, seperti PT Cocacola Amatil Indonesia Surabaya, dan PT Astra Toyota Auto2000 Jemursari Surabaya. Kemudian untuk program KWU UNAIR, saya memiliki rencana akan menjadikan RUM atau dikenal dengan Rumah Mahasiswa nantinya akan berparthner dengan teman-teman perusahaan seperti PT Wings Group, PT Telkom, PT Bank Jatim, Toyota Auto2000 Jemursari. Menurut saya Perguruan Tinggi harus menjalin kedekatan hubungan relational capital dengan stakeholder. Mahasiswa memerlukan parthner, mahasiswa perlu share dan mahasiswa perlu networking. Demikian juga perusahaan atau stakeholder sangat memerlukan kerjasama dengan teman-teman Perguruan Tinggi, hal inilah yang menjadikan pemikiran saya untuk mensinergikan teman-teman perusahaan dengan Perguruan Tinggi.

Tenaga Ahli Pemerintah Provinsi Jawa Timur
Tidak pernah memiliki impian atau keinginan menjadi bagian dari Pegawai Pemerintah Daerah. Namun kenyataanya, hingga saat ini saya menjadi Tenaga Ahli CSR Bidang Pembiayaan Bappeda Provinsi Jawa Timur. Bermula dari permintaan Pak Agus Yuda staf Bidang Pembiayaan pada tahun 2013 yang bertandang ke kantor Toyota Astra Auto2000 Waru. Waktu itu saya berada dikantor dan ditelp sama Kepala Cabangnya bernama Jogi Hartomo. Singkat cerita, Pak Agus Yuda (saat ini sespri Gubernur Jawa Timur) ini meminta bagaimana caranya program CSR perusahaan di Jawa Timur ini agar sinergi dengan program pembangunan pemerintah Provinsi Jawa Timur. Setelah diskusi kurang lebih 3 jam. Saya menyampaikan mudah sekali dan jika Pemerintah Daerah mau langkah pertama adalah diundang saja perusahaan-perusahaan besar yang berada di Jawa Timur. Termasuk waktu itu kita yang masih tergabung dalam Astra Group Surabaya. Setelah pertemuan, malam hari Pak Agus Yuda telp ke HP saya pribadi, Mas jhon siapa dan perusahaan apa yang diundang. Saya waktu itu menyarankan mengundang PT Astra International Tbk yang diwakili Astra Group Surabaya (saat itu Koordinator Astra group dijabat oleh Pak Jogi Hartomo), Kemudian PT HM Sampoerna, PT Unilever Tbk dan PT Ispatindo. selain itu saya kenal dengan Manajer Stasiun Radio SmartFM Surabaya yang studionya masih di Hotel D’Season Surabaya dan turut diundang juga. Beberapa hari kemudian,  rencana mengundang dilaksanakan dan teman-teman perusahaan hadir di ruang rapat Bidang Pembiayaan Bappeda. Dipimpin oleh Kepala Bidangnya yaitu Ibu Esther dan Kasubid Ibu Karimah serta staf CSR Bapak Agus Yuda pertemuan dilangsungkan dan disepakati membentuk embrio forum csr. pada tanggal 13 Juni 2013 itulah pertama kali embrio forum CSR Provinsi Jawa Timur dibentuk. Saya menyampaikan bahwa forum ini bisa jalan jika ada sekretariat yang jobdisknya memberikan informasi, mengajak serta mengundang perusahaan-perusahaan untuk bergabung. Waktupun terus berjalan dan forum CSR belum optimal dikarenakan sekretariat belum bisa maksimal dan ada perubahan organisasi yaitu Kepala Bidang Pembiayaan Ibu Esther diganti dengan Pak Ikmal Putra, kasubid pengembangan dari Ibu Karimah diteruskan Ibu Tjitjik Suhartini. Saya yang waktu itu masih di perusahaan tidak bisa membantu banyak, namun sering ditelp oleh Ibu Karimah maupun Ibu Tjitjik bagaimana bisa mengoptimalkan forum CSR agar bisa sinergi dengan program pemerintah. Yang saya bisa lakukan adalah membantu akses keperusahaan serta mencarikan narasumber misalnya ada rapat, itupun melalui telp karena posisi saya yang ditugaskan Astra di Balikpapan, Bandung dan Bali.
Pertengah tahun 2014 saya sudah tidak lagi di Astra dan kemabli di Surabaya. Mengetahui posisi saya yang sudah tidak di Astra, Bidang Pembiayaan melalui Ibu Tjitjik meminta saya untuk membantu menjalankan forum CSR yang dirasa selama ini  belum maksimal. Juli 2014 saya datang ke Bappeda Provinsi dan menyampaikan grand strategi agar forum CSR bisa berjalan dengan baik sesuai amanah Perda dan Pergub yang saat itu sudah ada sebagai payung hukum tentang tanggungjawab sosial perusahaan. Ibu Tjitjik, Pak Harno, Mbak Woro, Pak Haris, Mas Akega menyimak paparan saya tentang strategi pengembangan forum csr periode Juli sd Desember 2014. Beliu semua setuju dan dengan dibantu oleh staf skretariat saudari Feni dan Prio, yang saya lakukan pertama adalah ratifikasi database. Database perusahaan besar yang berada di Jawa Timur, kemudian data TIM TSP, serta data SKPD Kabupaten Kota. Tahun 2014 dari 4 jumlah perusahaan yang gabung di forum CSR menjadi 9 perusahaan. Memasuki tahun 2015, saya diberikan kewenangan oleh Kepala Bidang Pembiayaan untuk merekrut 4 orang staf sekretariat. Dari 47 pelamar yang masuk, diperoleh 4 staf yang memenuhi kriteria dan 2 orang menjadi staf CSR dari disiplin ilmu Statistik dan Informatika. Program 2015 forum CSR lebih pada tahap penguatan forum. Membuat surat ketetapan serta SK kepengurusan. Tahun 2015 forum CSR Jawa Timur terbentuk wadah dan struktur organisasi yang disyahkan oleh SK Gubernur. Sejak tahun 2015 tersebut Forum CSR mulai tampak kesolidan dan perusahaan semakin bertambah yang bergabung hingga 35 perusahaan besar menjadi anggota forum CSR tingkat Provinsi.
Sebagaimana tujuan awal dibentuknya forum ini adalah untuk mensinergikan program CSR teman-teman perusahaan anggota forum dengan program prioritas pemerintah. Maka pada bulan April 2016, untuk pertamakalinya Forum CSR mengikuti Pra Musrenbang dan Musrenbang Provinsi Jawa Timur. Dan untuk pertamakalinya, forum CSR Provinsi menerima sejumlah 1315 Usulan program CSR dari 34 Kab/Kota di Jawa Timur. Sebagai bentuk tindaklanjutnya, dari 1315 usulan tersebut saya filter sendiri bersama tim sekretariat yang akan ditindaklanjuti oleh forum CSR. Setelah difilter ada 104 usulan yang tahun 2016 ini akan ditindaklanjuti oleh teman-teman perusahaan. Skenario ini tidak mudah, memerlukan insting dan kepekaan agar usulan program bisa diterima oleh perusahaan-perusahaan anggota forum. Ternyata menjadi birokrasi tidak mudah. Banyak sekali hal-hal diluar konteks koordinasi dan komunikasi yang terkadang saya harus bersabar menunggu keputusan. saya berfikir kalau Indonesia ini memiliki birokrasi yang hebat niscaya negara ini akan lebih kuat. Saya berdoa’ keberadaan saya yang sekarang ditengah birokrasi ini, semoga tetap bisa memberikan konstribusi. Bahasan kondisi saya selama manjadi Tenaga Ahli di Bappeda ini tidak saya uraikan detail, yang pada intinya diperlukan strategi khusus agar program birokrasi dan company bisa berjalan adalah dengan mengedepankan social capital. Dan ini sekali lagi yang saya pakai sebagia Tenaga Ahli Pemerintah Provinsi untuk menyusun konsep, strategi dan menggerakan forum CSR Provinsi Jawa Timur.

Note :
Saya ceritakan pengalaman saya menjadi Pegawai Perusahaan, Akademisi dan Birokrasi ii adalah riil, nyata bukan fiktif belaka.
Semakin saya mengalami dan mengetahui yang saya rasakan adalah ” saya ini apalah..
Sayapun tidak tahu dengan perjalanan karir saya selanjutnya, hingga saat ini saya menjadi bagian dari birokrasi dan akademisi, sekali lagi saya, anda dan kita ini apalah….

Salam Harmoniz

 


					

Haji, Abah, Buya….

Lebaran Haji telah tiba, Suasana suka gembira. Bagi yang menjalankan Ibadah Haji, tahun ini rasanya perlu lebih bersabar. Jamaah yang akan beribadah meskipun sudah lunas dan telah dinyatakan resmi berangkat ternyata masih ada kendala, seperti Visa yang belum terbit. Cobaan jamaah Haji yang diyakini akan membawa berkah bila selalu sabar dalam menghadapinya.

Sabar adalah oleh-oleh utama setelah jamaah pulang dari Haji. Warga awam menanggalkan sebutan Haji bagi mereka yang telah menjalankan ibadah Haji. Sebutan Haji, Abah dan Buya tidak melekat begitu saja. Hanya disandang oleh umat Islam yang sudah pernah menunaikan ibadah Haji, meski tidak semuanya disebut Haji, Abah atau Buya, namun Saking akrabnya sebutan tersebut akhirnya disingkat dengan panggilan Ji. Pernah suatu ketika ada teman berbincang dengan koleganya semua dipanggil Ji. yah, karena paling mudah nyebutin Ji daripada pak Haji. Demikian pula dengan sebutan Abah atau Bah, dan Buya.

Semoga teman-teman yang sudah memperoleh Gelar Haji, sehingga dituakan dengan disebut Abah maupun Buya ini bisa menjadi contoh terutama kesabarannya. Sabar dalam bertutur kata, bergaul dan menjadi contoh untuk tidak punya pamrih terhadap milik orang lain. Berani mengatakan yang haq dan bathil. Tidak lagi memiliki sikap yang clingusan, mengguncing, memakan harta yang bukan haknya. Semoga jamaah yang sekarang sedang menjalankan ibadah Haji diberikan kemudahan kelancaran.

“Wong temen bakal tinemu, man jada wa jada”

Salam persaudaraan

Ji, Bah, buya…

 

Berlaku Adil dalam Bertetangga

Berlaku adil, diambil dari arti dua kata tersebut pastinya sudah banyak yang paham. Pertama kata berlaku. Terdiri dari kata Ber dan Laku. Dalam bahasa Jawa laku artinya langkah. Jika diberi awalan ber menjadi membuat langkah karena awalan ber bisa memiliki arti membuat atau menjadikan (sumber jhonhardi). Jadi berlaku saya artikan sebagai membuat langkah. Sedangkan Adil sendiri sudah jelas memiliki makna seimbang, sama. Seringkali dalam pelajaran diartikan adil itu sesuai dengan haknya. Misalnya kita memiliki anak 2 (dua) orang. Anak pertama kelas III SMP. Sedangkan anak kedua kelas II SD. Pada saat kita memberikan uang saku tentu saja akan berbeda jumlahnya. Anak yang besar kita berikan nilai nominal lebih daripada anak yang kecil. Dan itu bisa dikatakan juga Adil sesuai peruntukannya. Kemudian makna Tetangga. Kita smeua sepakat bahwa orang lain yang hidup berdampingan dengan kita itu disebut sebagai tetangga. Bisa terletak di kanan atau di kiri. Maka ada istilah tetangga kanan atau tetangga kiri. Tetangga kanan berarti tetangga kanan rumah kita, dan begitupun tetangga kiri berarti tetangga di samping rumah kiri kita.

Artikel ini sengaja saya tulis dnegan judul yang sangat sederhana. Yang seharusnya tidak perlu di artikan toh orang begitu membaca pasti sudah tahu artinya. Belaku Adil dalam Bertetangga. Sebenarnya saya bukan menuliskan artinya, namun dalam artikel ini saya sedikit akan uraikan bagaimana berlaku adil dalam bertetangga berikut ini.

Di kota Surabaya ada satu klaster perumahan. Sebut saja perumahan itu bernama SPR. Perumahan yang terletak di Surabaya kawasan Timur ini dihuni kurang lebih 340 an KK. Rata-rata penghuni mayoritas adalah pegawai yang berpendidikan tinggi. Penghasilan diperkirakan 5 juta sd 10 juta per bulan. Itu adalah penghasilan netto atau bersih. Bisa bertambah penghasilan itu karena si empunya terkadang memiliki penghasilan lain dari gaji tetapnya, misal dari proyek, bonus, komisi atau prosentase penjualan jasa karena keahliannya. Fasilitas di perumahan tersebut belum lengkap. Namun air serta listrik sudah tersedia, Meskipun di beberapa lokasi perlu perjuangan untuk mendapatkan aliran air PDAM pada awalnya, tapi tahun 2015 ini semua persil sudah teraliri. Listrik rumahpun sudah ada alias warga telah memperoleh pasokan aliran listrik yang cukup. Alkisah’ kehidupan warga dimulai pada medio 2010. Saya ingat betul bahwa tahun 2010 itulah dimulai dibentuk sebuah organisasi yang dikenal dengan Rukun Tetangga atau RT. Karena wilayah yang cukup luas. Maka di perumahan itu dibentuk menjadi 2 (dua) ke RTan. Yang pertama adalah RT 06 dan yang kedua RT 07. Seiring berjalannya waktu. Ketua RT melakukan tupoksinya yaitu bagaimana menjadi panutan, mengarahkan serta membina persatuan, kerukunan warga dalam hidup bertetangga. Mulai dari arahan untuk kerja bhakti bersama. Menjaga keamanan serta saling berbagi suka dan meringankan dalam duka. Kondisi demikian yang sangat diharapkan oleh pengurus RT waktu itu hingga pengurus yang sekarang. Namun bayangan indah yang diharapkan tidak sama dnegan kenyataan. Justru 180 derajat kata orang kondisinya. Warga cenderung cuek. Mengacuhkan himbauan dari RT. Seharusnya warga mengikuti arahan dari pemimpinnya yaitu ketua RT. Sejenak saya koreksi, apakah ini karena warga yang terlalu apatis atau RT dan jajarannya yang kurang dekat hubungannya dengan warganya. Bisa jadi dua hal itu sebagai penyebabnya. Pertama; warga kurang memahami makna Berlaku adil dalam Bertetangga. Warga seharusnya menyadari bahwa sebagai penghuni semestinya mengucapkan salam, senyum atau bertegur kepada warga lain yang sudah terlebih dahulu tinggal, namun kenyataanya tidak demikian. Warga baru cenderung apatis, jangankan lapor ke RT, sekedar permisi kulo nuwun ke tetangga sebelah saja enggan dilakukan. tingkah polah yang demikian ini menunjukan sifat tidak berlaku adil kepada tetangga. Sebagai warga baru sudah seharusnya permisi kepada yang lama, itu cukup adil dan fair. Kedua; RT serta jajarannya perlu mendalami ilmu hubungan sosial. Istilah kerenya Social Capital. Yang dalam tesis saya tulis Modal Sosial. Ilmu ini penting untuk dipahami oleh pemimpin mulai tingkat RT hingga level Presidenpun di Negeri ini. Mengapa’ karena dengan modal sosial yang baik, segala bentuk kebuntuan politik, komunikasi, budaya dan apapun akan bisa diselesaikan. karena dalam teori modal sosial yang salah satunya membahas bagaiman hubungan manusia satu dengan lainnya yang didasari rasa kebersamaan yang didasari dari hubungan relasional, interaksional serta struktural ini menjadikan ketua RT lebih mendekat ke warganya. RT serta jajaran pengurus akan senantiasa bersilaturahim ke warganya satu persatu. RT dan jajaranya akan mengerti dan memahami apa yang dirasakan warganya. RT serta jajarannya mampu menggali keinginan, kemauan serta harapan bahkan cita-cita masing masing penghuni. RT dan jajaranya akan memiliki hubungan relasional, interaksional serta struktural yang baik dengan warganya. Sehingga modal sosial RT dengan warga menjadi semakin kuat. Wargapun akan menilai bahwa RT bisa memberi contoh berlaku adil dalam bertetangga.

Sebagai penutup tulisan ini. Bahwa kondisi perumahan yang dituliskan dalam artikel diatas masih perlu perbaikan. Masih perlu perjuangan untuk menjadi perumahan yang penghuni dan pemimpinya untuk bisa Berlaku Adil dalam Bertetangga.

Salam harmoniz