Monthly Archives: July 2012

Memimpin Pada Situasi Krisis

Pada situasi terjadinya krisis kesehatan dan keselamatan publik, seperti kecelakaan pesawat, angin topan, wabah penyakit menular, atau teroris, dibutuhkan pemimpin yang efektif. Keputusan yang baik harus dilakukan dengan cepat, meskipun harus bertaruh dengan waktu, ketidakpastian, tekanan politik yang terkait dengan krisis (Hannah, Campbell, & Matthews, 2010; Pearson & Clair, 1998). Melakukan penilaian informasi dan membuat keputusan harus dilakukan oleh semua pihak dan merespon terhadap krisis tersebut yaitu mulai dari pejabat senior dari pemerintah pusat serta personil lokal pada area terdampak (Gorge, 2006; Mitroff, 2004).

 

GDE Error: Unable to load profile settings

Brands Performance

Editor senior Harvard Business Review (HBR) Regina Fazio Maruca pada tahun 1994 di HBR dan kemudian diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul HBR on Brand Management menceritakan tentang shampoo merek La Shampoo yang mengalami kesulitan. Judulnya menarik Can This Brand be Saved?. Dapatkan merek ini diselamatkan? Diceritakan bahwa Shampoo yang diluncurkan pada tahun 1975 dan ditargetkan untuk wanita antara 15 – 30 tahun dan memiliki slogan dari awal “La Shampoo: For the look and feel of france” ini sebelumnya kinerjanya bagus, akan tetapi sejak tahun 1989 terus mengalami penurunan.

Kasus yang sama barangkali terjadi dengan banyak merek diIndonesia, yang semula sangat menguasai pasar, akan tetapi di satu titik tiba-tiba pertumbuhannya berhenti, bahkan mengalami penurunan dan terus menurun sampai akhirnya disalib oleh merek lain yang sebelumnya sama sekali belum terdengar. Kasus yang terjadi dalam 5 tahun terakhir ini misalnya bagaimana kuatnya oli Mesran sampai dengan tahun 2002, dan menurut penelitian MARS dari tahun 1994, tidak ada satupun merek oli yang mampu melawan karena memang kebijakan pemerintah juga menopang keberhasilannya. Akan tetapi ketika pasar dibebaskan dan siapapun boleh masuk ke pasar oli, tiba-tiba ada Oli merek Top 1. Mula-mula pasar oli sepeda motor dulu yang dikuasai oleh Top 1, kemudian baru kendaraan roda 4.

Apa yang sesungguhnya terjadi ? apakah menangnya Top 1 dalam persaingan dengan Mesran tersebut terjadi secara tiba-tiba atau dalam kurun waktu yang pendek sehingga Mesran tidak siap untuk menghadapinya ? Sepertinya tidak. Pindahnya seorang konsumen dari sebuah merek ke merek yang lain, apalagi produk tersebut termasuk semi-high involvement, memakan waktu yang tidak sedikit. Ada sebuah proses yang secara teratur dijalankan oleh konsumen sampai akhirnya mereka memutuskan menggunakan merek tertentu. Konsumen selalu rasional dalam mengambil keputusan, akan tetapi variabel yang digunakannya sebagai dasar pengambilan keputusan seringkali tidak dipahami oleh marketer.  (Asto S. Subroto)

 

GDE Error: Unable to load profile settings

7 Habits of Highly effective People

Agar kehidupan Anda bisa terus tumbuh dan berkembang, ada baiknya Anda selalu peduli dengan proses personal development. Inilah sebuah ilmu yang ingin membuat potensi dan jatidiri Anda bisa terus melesat : memberikan kontribusi dan karya yang keren bagi lingkungan kerja Anda.

Nah, salah satu buku tentang personal development yang amat legendaris adalah yang bertajuk : 7 Habits of Highly effective People. Meski sudah cukup lama diterbitkan, isi buku ini saya kira tetap relevan hingga hari ini. Timeless advice from personal development guru, Stephen Covey.

Tanpa ditemani secangkir teh hangat seperti biasanya, saya ingin mengajak Anda semua untuk menelisik isi buku legendaris itu. Mencoba merasapi beberapa keping pelajaran yang penuh makna. For your personal development and personal growth.

Buku ini seperti judulnya, meng-eksplorasi tuju pilar habit yang layak dipeluk erat manakala kita mau menjadi insan yang produktif.

Tiga habits yang pertama berkaitan dengan Self Mastery. Tiga habit berikutnya adalah tentang Interdependence. Dan habit ketuju berkelindan dengan proses Self Renewal. Mari kita ulik satu per satu.

SELF MASTERY
Habit # 1 : Be Proactive. You create your own destiny. You design your own history. Semangatnya adalah agar kita selalu proaktif untuk merajut arah masa depan kita sendiri. Berani mengambil inisiatif, and take full responsibility.

Sikap pasif dan membiarkan lingkungan sekitar membentuk arah hidup kita, hanya akan membuat kita menjadi pribadi yang kering akan kontribusi. Sikap pasif juga akan membikin hidup ini terasa garing. Hanya bikin bete gitu lhoh.

Habit # 2 : Begin with The End in Mind. Lukislah ending goals yang hendak Anda bentangkan dalam kanvas kehidupan Anda yang terus berjalan itu. Bentangkan blueprint yang jelas dan menggugah tentang arah perjalanan hidup Anda : baik dalam personal ataupun profesional life.

Mulailah derap kaki Anda — dalam segala aktivitas – dengan sebuah tujuan (ending points) yang solid.

Sebab dengan itu, proses perjalanan itu akan berjalan dengan penuh harapan yang berkibar-kibar. Dan, bukankah segenggam harapan itu yang bisa terus melecut diri kita untuk berlari?

Habit # 3 : Put First Things First. Ah, betapa kita sering kehilangan waktu untuk hal-hal kecil yang tidak penting. Interupsi tanpa henti yang tidak jelas prioritasnya. Ditengah hiruk pikuk kesibukan yang terus menyergap, acapkali kita kehilangan arah tujuan yang justru lebih penting.

Jangan-jangan Anda menghabiskan waktu 80% Anda untuk sesuatu yang trivial (ndak penting); dan hanya 20% untuk sesuatu yang sesungguhnya menjadi prioritas utama.

Segera balik-kan formula itu. Put your first things first.

INTERDEPENDENCE
Habit # 4 : Think Win – Win. Di lingkungan kantor, acapkali kita melihat situasi win – loss. Ego (entah ego individu atau ego bagian) dan kepentingan diri ternyata acapkali begitu menyeruak. Spirit ini niscaya tak akan pernah membawa kita menuju kejayaan yang sustainable.

Hanya semangat win and win yang akan mengantarkan kita menuju level produktivitas yang lestari.

Habit # 5 : Seek First to Understand, Then to be Understood. Dan semangat win-win dalam pilar sebelumnya, hanya akan terengkuh jika kita mau melakukan habit kelima ini. Senantiasa mau mendengarkan beragam perspektif. Merajut dialog. Membangun empati. Berkelindan dan berjibaku untuk merumuskan kesaling-pengertian yang konstruktif.

Habit # 6 : Synergy. Bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi. Sorry salah, maksudnya kita akan runtuh.

Ya, habit keempat dan kelima akan bermuara pada elemen ini : yakni tentang kekuatan sinergi, tentang indahnya membangun kerjasama tim yang kuat, dan tentang spirit untuk berbagi peran dan kontribusi demi tergapainya tujuan bersama.

SELF RENEWAL
Habit # 7 : Sharpening the Saw. Habit yang terakhir ini mengajak kita semua untuk terus mengasah ketrampilan dan pengetahuan kita. Becoming a lifetime learner. Sebab everyplace is a school and everyone is a teacher. #wuih-keren-bener-kalimatnya#

Itulah 7 Habits yang layak kita patrikan dalam sekujur sukma kita. Jika 7 pilar ini bisa terus kita praktekkan dengan istiqomah, niscaya kita semua bisa menjelma menjadi insan yang jauh lebih produktif.

Dan persis di bulan penuh barokah ini, kita punya kesempatan bagus untuk merenungkan tuju pilar itu, dan kemudian take action to implement those good habits.

(sumber Yodya A, Blog Strategy)

Mengukur Metrik Pemasaran

Menurut Dave Reibstein, penulis buku called Marketing Metrics, 50+ Metrics Every Executive Should Master, perusahaan seringkali salah dalam menggunakan metric-metrik pemasaran. Misalnya, metrik yang paling umum digunakan, yaitu market share (pangsa pasar). Perusahaan seringkali melihat pada pangsa pasar untuk mengevaluasi bagaimana kinerja mereka. Namun kadang digunakan salah jika pendefinisiannya kurang jelas. Mungkin kita berbicara tentang pangsa pasar dalam rupiah, yaitu porsi pendapatan dalam industri, sementara orang lain mungkin saja berbicara mengenai pangsa pasar unit, yaitu jumlah unit barang yang terjual.

Kedua, Reibstein mengemukakan bahwa ketika Anda menghitung pangsa pasar, maka ada numerator, yaitu penjualan dan denominatornya yaitui penjualan industri. Namun pertanyaannya adalah, apa definisi industri Anda? Misalnya Anda berada pada bisnis printer dan berpikir bahwa pangsa pasar Anda dalam industri printer, namun bisa saja pesaing melihat pangsa pasar Anda adalah printer laserjet, misalnya.

Market Share adalah salah satu metric yang terpenting dalam mengukur efektivitas pemasaran. Reibstein mengungkapkan ada dua lagi metric yang terpenting, yaitu: share of requirement dan customer satisfaction (kepuasan pelanggan).

Share of requirement adalah berapa pangsa pasar merek Anda dari kategori total yang dilakukan oleh repeat buyer. Ini menunjukkan loyalitas pelanggan pada merek Anda. Jika share requirement tinggi, maka cara terbaik untuk berkembang adalah dengan memperoleh pelanggan baru. Namun jika share requirement rendah, maka Anda bisa memanfaatkan pelanggan yang sudah ada dan menjual lebih kepada mereka sehingga mereka membeli dalam porsi yang lebih banyak.

Kemudian metric ketiga yang juga penting adalah kepuasan pelanggan. Tentu saja ini penting karena Anda pasti ingin tahu sebaik apa Anda melayani pelanggan. Metrik ini juga penting untuk memperkirakan seberapa loyal para pelanggan Anda.

Kalori Tidak Penting

“Menghitung Kalori Ketika Berolahraga Tidaklah Penting untuk Membuang Lemak”.

 Sedikit melanjutkan tulisan di artikel tersebut mengenai
perhitungan kalori sama sekali tidak berguna karena kalau dihitung,
maka olahraga yang biasa Anda lakukan, pada umumnya tidak akan
cukup membakar jumlah kalori yang anda makan dalam sehari.
Ketika anda ingin menurunkan berat badan, saran semua orang pada
umumnya adalah ‘kamu harus olahraga kalau mau kurus’. Dengan
patokan itu, maka olahraga mulai anda lakukan dan berharap angka di
timbangan mulai bergeser ke kiri. Tetapi ternyata hasil yang anda
harapkan tidak kunjung tiba. Apa yang salah?
Nah kali ini coba kita analisa lagi. 1 jam berolahraga, rata-rata tubuh Anda akan membakar kalori sekitar 300-400 kalori saja, mungkin bisa sampai 500 kalori dengan usaha yang lebih keras. Tetapi sehari-hari, kita makan lebih dari 400 kalori. Bahkan sehari Anda mungkin saja makan sekitar 1500-2500 kalori. Jadi bagaimana mungkin membakar 400 kalori setiap hari ketika tubuh mendapat asupan sebesar itu?Pemikiran itulah yang mendasari kenyataan bahwa orang-orang yang sudah giat melakukan aerobik, renang, basket secara rutin, namun berat badan tidak kunjung turun juga. Lalu, bagaimana solusinya? Saya analogikan dengan handphone. Kalau Anda pernah tahu Blackberry Onyx, kemudian dibandingkan dengan Blackberry Dakota, tentu Dakota akan lebih boros batereinya. Salah satunya adalah karena resolusi layar Dakota yang lebih tinggi daripada Onyx. Lalu apakah handphone Anda batereinya akan habis hanya kalau digunakan telpon saja? Atau ketika dibiarkan standby juga lama-lama habis? Tentu dibiarkan standby saja, baterei juga bisa habis kan.

Kejadian itu sama dengan badan kita. Pembakaran kalori tidak hanya ketika kita berolahraga saja, ketika tidak berolahraga pun badan kita akan membakar kalori secara konstan. Nah sekarang bagaimana caranya meningkatkan pembakaran kalori ketika kita sedang tidak berolahraga supaya seperti onyx vs dakota tadi. Dengan resolusi layar yang lebih tinggi maka Dakota akan bisa menghabiskan baterei lebih boros. Kita juga harus membuat badan kita seperti itu.

Sebenarnya yang harus dilakukan untuk membuang lemak adalah meningkatkan metabolisme tubuh, bukan sekedar berolahraga untuk membakar kalori saja. Cara terbaik untuk meningkatkan metabolisme tubuh adalah dengan meningkatkan jumlah otot di tubuh Anda. Salah satu kerjaan otot adalah memakan lemak di tubuh, oleh karena itulah kita harus menambah jumlah otot dan memberi makan otot dengan nutrisi yang baik supaya dia bisa bekerja optimal. Ketika Anda melakukan latihan beban, dan kemudian pulang ke rumah, proses perbaikan otot Anda itu membakar lemak. Dan setelah otot selesai diperbaiki, maka otot Anda yang baru itu akan membakar lebih banyak lemak daripada sebelumnya bahkan ketika Anda sedang tidur.

Itulah alasannya kenapa rutin berolahraga saja tidak cukup untuk membuang lemak membandel Anda. Anda harus membuat metabolisme lebih tinggi, dan latihan beban akan memberikan efek afterburn yang akan membakar lemak Anda lebih banyak lagi. Jadi perhitungan kalori ketika Anda berolahraga sudah tidak penting lagi, karena dengan cara ini Anda akan membakar kalori secara terus menerus bahkan setelah Anda tidak berolahraga lagi.

Pertanyaannya adalah, siapkah Anda menerima paradigma ini dan mulai melakukan latihan beban untuk membakar lemak berlebih di tubuh Anda?

(deny santoso)

Mangrove love u full

Pak Jogi, selamat pagi” saya sudah diterminal Keputih, ” Oh..iya Mas Jhon, saya sudah OTW 3 menit lagi sampai.” Itulah sepenggalan percakapan lewat telepon antara Jhon Hardi dengan Jogi Hartomo (Korwil Astra Surabaya) Sabtu pagi 7 Juli 2012 dengan acara penanaman mangrove di kawasan pantai Keputih Sukolilo Surabaya Timur. Acara yang diselenggarakan oleh Kecamatan Sukolilo melalui swadaya masyarakat Keputih. Keterlibatan Astra Group Surabaya turut serta dalam melestarikan lingkungan merupakan bagian dari Astra Green Lifestyle. Astra berbagi bersama dan bangsa dan menjadi milik bangsa yang bermanfaat. Pada hari itu Astra menyumbangkan 5.500 bibit mangrove kepada petani langsung dan 6.550 bibit ikan bandeng.

Tema pelestarian lingkungan melalui ikon mangrove sangat tepat sekali. Mengingat banyaknya alih fungsi lahan mangrove yang dijadikan lahan pemukiman, industri maupun pertambangan. Terlebih lagi di kawasan Keputih ini penjarahan terhadap lahan mangrove kerap dilakukan oleh petani yang di belakangnya adalah cukong-cukong pengembang perumahan, huh sungguh dahsyat.  Selain merusak ekosistem pantai hal tersebut juga dapat memandulkan sumber pangan alternatif yang bernilai gizi tinggi sehingga sudah menjadi tugas kita untuk terus menjaga kelestarian hutan mangrove.

Tumbuhan ini termasuk tumbuhan yang unik karena bisa beradaptasi dengan lingkungan yang kurang akan kandungan oksigen dan kondisi tanah yang kurang menguntungkan untuk tumbuh. Hutan manggrove yang ada di Indonesia merupakan hutan mangrove terluas di dunia dengan luas mencapai 2,5 – 4,5 juta hektar. Melebihi hutan mangrove yang terdapat di negara – negara lain seperti Brazil, Nigeria dan Australia. Tumbuh di lingkungan tanah yang buruk, ternyata hutan mangrove menyimpan sejuta manfaat untuk kelestarian alam. (indobeta)

 

 

Inovasi Inovasi dan Inovasi

Artikel yang sedang anda seduh awal minggu ini adalah sengaja kita keruk dari strategi renyah seorang konsultan bisnis handal. Hempasan jemarinya sangat piawai dalam meronce setiap kata sehingga bersambung menjadi kalimat baru seputar bisnis. Seperti apakah artikelnya, mari kita waos bersama;

Empat minggu lalu, Nokia mengumumkan akan mem-PHK 10 ribu karyawannya di berbagai belahan dunia. Nokia Lumia yang digadang-gadang akan menyelamatkan mereka, ternyata termehek-mehek dalam lorong kekalahan. Asap dupa dan kemenyan kematian pelan-pelan meruap : Nokia mungkin akan segera beristirahat panjang dalam taman kuburan.

Lalu, RIM produsen Blackberry dua hari lalu membentangkan berita kelam : mereka juga akan mem-PHK 5000 karyawannya. Penjualan mereka anjlok 50 % dibanding tahun lalu. Jika sebuah bisnis mengalami penurunan penjualan hingga 50%, itu artinya harus segera masuk ruang ICU. Dan jika tak tertolong, Blackberry juga akan wafat dalam taman kesunyian yang menyakitkan.

Nokia dan Blackberry. Dua raksasa yang tampak begitu perkasa itu tengah limbung. Tertatih-tatih menapak jalan terjal kompetisi yang begitu brutal. What went wrong? Dan pelajaran bisnis apa yang bisa dipetik dari drama robohnya dua legenda ini?

Persaingan dalam dunia gadget dan smartphone memang begitu keras. Namun ada sebuah tesis menarik dalam industri ini : hanya mereka yang menguasai aspek software dan hardware sekaligus yang akan menguasai dunia digital masa depan.

Dan sayangnya, hanya ada satu perusahaan yang dahsyat dalam dua elemen itu : baik software / hardware. Nama perusahaan itu Apple. Dan faktanya, perusahaan inilah yang kemudian memporak-porandakan pangsa Nokia dan BB di seluruh dunia. Bersama Samsung, Apple kini menguasai 75 % pangsa pasar smartphone global.

Nokia menjadi korban pertama. Lalu kini penjualan BB di pasar USA dan Eropa mulai meluncur drastis lantaran di-koyak oleh kehadiran iPhone dan Samsung Android. Sebentar lagi, Blackberry mungkin akan tersingkir. Itu artinya PIN BB Anda akan segera masuk museum : menjadi renik-renik peninggalan sejarah masa silam. Doh.

Ada tiga pelajaran tentang inovasi bisnis dari drama ini – berderat lesson yang bisa Anda petik, apapun jenis industri yang tengah Anda geluti saat ini. Sebab inovasi memang tak mengenal jenis bisnis. Either you innovate or die.

Innovation Lesson # 1 : Core Competencies will Win. Inovasi akan selalu dimenangkan oleh mereka yang menguasai core competency dalam industrinya. Dalam kasus industri gadget, core competencies itu adalah pada penguasaan dua bidang sekaligus : hardware design dan software. Siapa yang menguasai dua aspek ini akan menang.

Dalam industri/bisnis yang Anda tekuni, apa core competencies yang paling dibutuhkan? Dan apakah tim Anda memiliki kapabilitas yang lebih unggul dibanding kompetitor dalam penguasaan core competencies tersebut?

Dua pertanyaan kunci itu kudu dijawab dengan tuntas dan memuaskan. Sebab jika tidak, nasib Anda bisa seperti Nokia yang limbung itu.

Innovation Lesson # 2 : Collaborative Innovation. Kalau kita tidak menguasai core competencies yang dibutuhkan dalam sebuah bisnis, tak ada salahnya kita melakukan kolaborasi dengan mereka yang memilikinya.

Contoh : Samsung sadar ia tak akan mampu melawan kompetensi software Apple. Karena itu ia segera melakukan kolaborasi dengan software Android milik Google.

Kolaborasi atau aliansi strategis tak pelak merupakan salah satu taktik kunci untuk memenangkan persaingan bisnis yang kian dinamis. Adakah peluang bagi Anda untuk melakukan aliansi bisnis dengan mitra lain yang saling menguntungkan? Yang akan membuat bisnis Anda bergerak to the next level?

Innovation Lesson # 3 : Speed. Speed. Speed. Dalam derap perubahan yang melaju dengan kencang, respon yang lamban (atau apalagi penuh birokrasi) akan membuat Anda tewas dilibas pesaing.

Kasus : Samsung beruntung cepat mengambil keputusan untuk aliansi dengan Android. Samsung juga cepat merespon gadget touch screen yang kini jadi tren global.

Nokia dan Blackberry amat lamban merespon dinamika itu. Terlalu banyak analisa. Terlalu lamban mengambil decision. Dan ketika keputusan diambil, ah, semuanya sudah terlambat.

Tim Anda juga mestinya menghargai the magic of SPEED ini. Jangan terlalu lama melakukan analisa (analisa terus kapan eksekusinya?). Jangan terlalu banyak rapat untuk mengambil keputusan (terlalu banyak rapat adalah simbol birokrasi). Too many meetings will kill your innovation speed.

Demikianlah tiga pelajaran inovasi bisnis yang bisa dipetik dari drama limbungnya Nokia dan Blackberry. Derap kompetisi bisnis terus berjalan. Dan untuk bisa menyusuri jalan panjang itu, ruh inovasi harus terus dikibarkan.